Karakteristik Lingkungan Budidaya Lobster Mutiara

Hasil gambar untuk manfaat lobster mutiara

Lobster mutiara merupakan lobster komersial yang miliki nilai menjual yang lumayan mahal dibandingkan lebih dari satu lobster lainnya. Lobster ini miliki ciri fisik yakni punggung atau badan abdomen berwarna hijau dengan kombinasi belang-belang kuning. Perkembangan udang karang atau lobster dengan memandang prospek pasar yang benar-benar besar dan merupakan komoditas dengan takaran gizi yang benar-benar baik, Ditjen Perikanan Budidaya telah berupaya jalankan pengembangan budidaya lobster berkelanjutan. Salah satunya adalah Proyek Spiny Lobster Aquaculture Development In Eastern Indonesia, Vietnam plus Australia yang terjadi sampai dengan tahun 2013. Tujuan berasal dari proyek ini adalah untuk menaikkan memproses yang terus menerus berasal dari budidaya spiny lobster tropis (Panulirus ornatus dan Panulirus homarus) di Indonesia untuk mencukupi keinginan world yang besar, khususnya berasal dari China.

Karakteristik ekologi atau lingkungan perairan sebagai basic pertimbangan di dalam penentuan lokasi budidaya lobster benar-benar perihal dengan karakteristik habitat dan kebiasaan hidup lobster di alam. Selain pertimbangkan segi biofisik-kimia perairan sesuai dengan keperluan hidup lobster, penentuan lokasi budidaya lobster juga mesti pertimbangkan segi aksesibilitas. Kondisi perairan pada situasi cuaca dan dampak berasal dari daratan juga menjadi pertimbangan.

Ditinjau berasal dari segi aksesibilitas dan pembawaan keterbukaan perairan pada cuaca serta dampak berasal dari daratan, penentuan lokasi budidaya lobster hendaknya memperhatikan:
1. Aksesibilitas yakni tingkat kemudahan atau keterjangkauan lokasi berasal dari daratan untuk memudahkan menjalankan fasilitas produksi.
2. Lokasi hendaknya terlindung berasal dari dampak badai, angin kecang, arus kuat dan gelombang tinggi. Oleh gara-gara budidaya lobster pada kebanyakan perlu selagi yang relatif panjang, maka penentuan lokasi yang lumayan terlindung berasal dari dampak cuaca ekstrim secara musiman penting dipertimbangkan. Daerah-daerah berteluk atau perairan pantai yang terlindung selama tahun merupakan lokasi yang sesuai untuk budidaya lobster pada KJA.
3. Lokasi budidaya lobster hendaknya terbebas berasal dari dampak pencemaran yang berasal berasal dari permukiman, industri, pelabuhan, pertambangan dan kesibukan lain yang berpotensi mengalirkan limbah ke laut.
4. Lokasi budidaya lobster hendaknya hindari muara-muara sungai yang sanggup mengakibatkan penurunan takaran salinitas secara ekstrim dan pelumpuran pada selagi musim hujan.
5. Lokasi budidaya lobster hendaknya terbebas berasal dari fenomena arus balik (up welling).
Sedangkan ditinjau berasal dari parameter fisik, kimia dan biologi perairan, lebih dari satu syarat-syarat yang mesti dipenuhi di dalam penentuan lokasi yaitu: Dasar perairan bersubstrat keras, pecahan karang atau berpasir, pergerakan air lumayan baik dengan kecepatan arus berkisar pada 20 – 50 cm/detik, kedalaman tidak kurang berasal dari 5 mtr. pada surut paling rendah atau berkisar 7–25 m, kecarahan air 3 – 5 mtr. atau situasi plankton tidak blomming, salinitas 28 – 35 ppt, suhu air 28 – 30 0C, oksigen terlarut 7 – 8 ppm, pH 7,0 – 8,5.

Benih dan Penebaran Benih
Benih untuk membantu pengembangan budidaya lobster masih sepenuhnya mengandalkan benih hasil tangkapan di alam. Benih hasil tangkapan di alam benar-benar bervariasi ukurannya, merasa berasal dari ukuran kurang berasal dari 0,5 gram/ekor yang situasi karapasnya belum mengeras (transparan) sampai berukuran 100 gram. Benih yang berukuran kurang berasal dari 0,5 gram/ekor kebanyakan khususnya dahulu dilaksanakan pemeliharaan pendederan sebelum saat dipasarkan untuk mensuplai unit-unit pembesaran. Pendederan benih perlu selagi 3 – 5 bulan sampai diperoleh benih berukuran 3 – 5 gram/ekor.
Padat penebaran benih benar-benar bergantung pada ukuran benih yang ditebar. Benih ukuran 5 – 30 gram sanggup ditebar dengan kepadatan 40 – 60 ekor/m2 luas basic jaring, ukuran 30 – 50 gram padat penebaran 20 – 30 ekor/m2 dan ukuran di atas 50 gram padat penebaran 15 – 17 ekor/m2.
Dalam penebaran benih lobster ke KJA mesti dilaksanakan dengan hati-hati. Salah satu segi kematian di dalam penebaran benih adalah kasus cara adaptasi. Adaptasi adalah proses penyesuaian lingkungan oleh organisme berasal dari lingkungan fasilitas lama ke lingkungan fasilitas hidup secara bertahap.
Suhu benar-benar berpengaruh di dalam proses adaptasi selagi penebaran benih, oleh gara-gara itu penebaran benih mesti dilaksanakan pada selagi situasi teduh. Pagi hari, sore atau malam hari merupakan selagi di mana pergantian suhu tidak benar-benar mencolok. Sebelum benih ditebar, benih mesti diadaptasikan dengan cara aklimatisasi suhu (penyesuaian suhu) khususnya dahulu sekitar 15 – 30 menit sebelum saat dilepaskan di jaring.

· Shelter
Shelter berguna sebagai daerah pertolongan atau daerah persembunyian bagi lobster yang tengah berganti kulit (moulting) supaya kematian udang akibat kanibalisme sanggup ditekan. Bahan yang dipergunakan sebagai shelter sanggup berupa potongan bambu yang diberi pemberat yang diletakkan di basic jaring atau rumput laut tipe Gracillaria yang disebar di basic jaring.

· Pakan dan Pemberian Pakan
a. Jenis Pakan
Pakan yang diberikan kepada lobster kebanyakan berupa ikan rucah fresh yang diperoleh berasal dari hasil tangkapan bagan. Namun demikian, lobster sanggup juga diberikan tipe pakan lainnya layaknya remis, kerang, tiram, keong sawah, bekicot, dan by product berasal dari industri pengolahan ikan atau pemotongan ayam.
b. Frekuensi Pemberian Pakan
Pada ukuran udang kurang berasal dari 10 gram, diberikan pakan sebanyak 30% berasal dari biomassa dengan frekuensi satu kali sehari yakni pada sore hari. Ukuran 10 – 50 gram diberikan pada sebanyak 20% berasal dari biomassa dengan frekuensi 2 kali sehari (pagi dan sore hari), ukuran 50 – 100 gram diberikan sebanyak 15% dengan frekuensi 2 kali sehari dan ukuran 100 – 200 gram diberikan sebanyak 10% dengan frekuensi 2 kali sehari.
· Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengontrolan pada jaring benar-benar penting untuk menghambat masuknya hama. Sedangkan penyakit sanggup keluar jikalau situasi jaring tidak bersih atau terkandung sisa-sisa pakan yang membusuk tersangkut di jaring. Sisa pakan yang membusuk sanggup menjadi fasilitas perkembangan jamur dan bakteri yang sanggup menginfeksi udang khususnya selama situasi udang lemah selagi rubah kulit (moulting).

Lobster Mutiara

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *